Minggu, 03 Juni 2012

MAKALAH ADMINISTRASI PEMBANGUNAN “INDIKATOR KEBERHASILAN PEMBANGUNAN DI BIDANG SOSIAL,BUDAYA,KESEHATAN,EKONOMI,POLITIK DAN HUKUM”


MAKALAH ADMINISTRASI PEMBANGUNAN
“INDIKATOR KEBERHASILAN PEMBANGUNAN DI BIDANG SOSIAL,BUDAYA,KESEHATAN,EKONOMI,POLITIK DAN HUKUM”
Urindo








OLEH :
GUSTI AYU ENDANG HARTANTI (095100008)

FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS RESPATI INDONESIA             
JAKARTA
2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat  Tuhan Yang Maha Esa Karena atas berkat dan rahmatnya maka penulis dapat menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya.

Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar - besarnya kepada Bapak Radimin selaku dosen mata kuliah Administrasi Pembangunan yang secara tidak langsung telah melatih penulis dalam membuat sebuah karya yang bersifat ilmiah.

Terima kasih juga kepada semua pihak yang telah mendukung penulis demi terselesaikannya karya tulis ini baik dari segi moril maupun materil.

Penulis menyadari bahwa  masih sangat banyak kekurangan yang terdapat dalam karya tulis ini.

Oleh karena itu, saran dan kritik demi kesempurnaan karya tulis ini sangat penulis harapkan.





Jakarta, 13 november 2011

Penulis
 
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
1.2  Tujuan

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Indikator keberhasilan Pembangunan di Bidang Ekonomi
2.2 Indikator Keberhasilan Pembangunan di Bidang Kesehatan
2.3 Indikator Keberhasilan Pembangunan di Bidang Pendidikan
2.4 Indikator Keberhasilan di Bidang Sosial
2.5 Indikator Keberhasilan Pembangunan di Bidang Politik
2.6 Indikator Keberhasilan Pembangunan di Bidang Hukum

KESIMPULAN

 DAFTAR PUSTAKA
















BAB 1
 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pembangunan (development) adalah proses perubahan yang mencakup seluruh system sosial, seperti politik, ekonomi, infrastruktur, pertahanan, pendidikan dan teknologi, kelembagaan, dan budaya (Alexander 1994).Portes (1976) mendefenisiskan pembangunan sebagai transformasi ekonomi, sosial dan budaya Pembangunan adalah proses perubahan yang direncanakan untuk memperbaiki berbagai aspek kehidupan masyarakat. Sedangkan Ginanjar Kartasas­mita (1994) memberikan pengertian yang lebih sederhana, yaitu sebagai “suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana”.
Pada awal pemikiran tentang pembangunan sering ditemukan adanya pemikiran yang mengidentikan pembangunan dengan perkembangan, pembangunan dengan modernisasi dan industrialisasi, bahkan pembangunan dengan westernisasi. Seluruh pemikiran ter­sebut didasarkan pada aspek perubahan, di mana pembangunan, perkembangan, dan modernisasi serta industrialisasi, secara kese­luruhan mengandung unsur perubahan. Namun begitu, keempat hal tersebut mempunyai perbedaan yang cukup prinsipil, karena masing-masing mempunyai latar belakang, azas dan hakikat yang berbeda serta prinsip kontinuitas yang berbeda pula, meskipun semuanya merupakan bentuk yang merefleksikan perubahan (Riyadi dan Deddy Supriyadi Bratakusumah, 2005).
Menurut Deddy T. Tikson (2005) bahwa pembangunan nasional dapat pula diartikan sebagai transformasi ekonomi, sosial dan budaya secara sengaja melalui kebijakan dan strategi menuju arah yang diinginkan.
Transformasi dalam struktur ekonomi, misalnya, dapat dilihat melalui peningkatan atau pertumbuhan produksi yang cepat di sektor industri dan jasa, sehingga kontribusinya terhadap pendapatan nasional semakin besar. Sebaliknya, kontribusi sektor pertanian akan menjadi semakin kecil dan berbanding terbalik dengan pertumbuhan industrialisasi dan modernisasi ekonomi. Transformasi sosial dapat dilihat melalui pendistribusian kemakmuran melalui pemerataan memperoleh akses terhadap sumber daya sosial-ekonomi, seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, air bersih,fasilitas rekreasi, dan partisipasi dalam proses pembuatan keputusan politik. Sedangkan transformasi budaya sering dikaitkan,  antara lain, dengan bangkitnya semangat kebangsaan dan nasionalisme, disamping adanya perubahan nilai dan norma yang dianut masyarakat, seperti perubahan dan spiritualisme ke materialisme/sekularisme. Pergeseran dari penilaian yang tinggi kepada penguasaan materi, dari kelembagaan tradisional menjadi organisasi modern dan rasional.
Dengan demikian, proses pembangunan terjadi di semua aspek kehidupan masyarakat, ekonomi, sosial, budaya, politik, yang berlangsung pada level makro (nasional) dan mikro (commuinity/group). Makna penting dari pembangunan adalah adanya kemajuan/perbaikan (progress), pertumbuhan dan diversifikasi.

1.2  Tujuan
·         Untuk mengetahui sejauh mana perkembangan indikator keberhasilan pembangunan di berbagai sektor ( kesehatan, politik, hukum, sosial budaya, ekonomi dan pendidikan)
·          Sebagai tolak ukur untuk pembangunan di masa depan yang lebih baik.
























BAB 2
 PEMBAHASAN

2.1 Indikator keberhasilan Pembangunan di Bidang Ekonomi
   Penggunaan indicator dan variable pembangunan bisa berbeda untuk setiap Negara. Di Negara-negara yang masih miskin, ukuran kemajuan dan pembangunan mungkin masih sekitar kebutuhan-kebutuhan dasar seperti listrik masuk desa, layanan kesehatan pedesaan, dan harga makanan pokok yang rendah. Sebaliknya, di negara-negara yang telah dapat memenuhi kebutuhan tersebut, indicator pembangunan akan bergeser kepada factor-faktor   sekunder dan tersier (Tikson, 2005).
Sejumlah indicator ekonomi yang dapat digunakan oleh lembaga-lembaga internasional antara lain pendapatan perkapita (GNP atau PDB), struktur perekonomin, urbanisasi, dan jumlah tabungan. Disamping itu terdapat pula dua indicator lainnya yang menunjukkan kemajuan pembangunan sosial ekonomi suatu bangsa atau daerah yaitu Indeks Kualitas Hidup (IKH atau PQLI) dan Indeks Pembangunan Manusia (HDI). Berikut ini, akan disajikan ringkasan Deddy T. Tikson (2005) terhadap kelima indicator tersebut :
1.       Pendapatan perkapita
Pendapatan per kapita, baik dalam ukuran GNP maupun PDB merupakan salah satu indikaor makro-ekonomi yang telah lama digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi. Dalam perspektif makroekonomi, indikator ini merupakan bagian kesejahteraan manusia yang dapat diukur, sehingga dapat menggambarkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Tampaknya pendapatan per kapita telah menjadi indikator makroekonomi yang tidak bisa diabaikan, walaupun memiliki beberapa kelemahan. Sehingga pertumbuhan pendapatan nasional, selama ini, telah dijadikan tujuan pembangunan di negara-negara dunia ketiga. Seolah-olah ada asumsi bahwa kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat secara otomatis ditunjukkan oleh adanya peningkatan pendapatan nasional (pertumbuhan ekonomi). Walaupun demikian, beberapa ahli menganggap penggunaan indikator ini mengabaikan pola distribusi pendapatan nasional. Indikator ini tidak mengukur distribusi pendapatan dan pemerataan kesejahteraan, termasuk pemerataan akses terhadap sumber daya ekonomi.
2.       Struktur ekonomi
Telah menjadi asumsi bahwa peningkatan pendapatan per kapita akan mencerminkan transformasi struktural dalam bidang ekonomi dan kelas-kelas sosial. Dengan adanya perkembangan ekonomi dan peningkatan per kapita, konstribusi sektor manupaktur/industri dan jasa terhadap pendapatan nasional akan meningkat terus. Perkembangan sektor industri dan perbaikan tingkat upah akan meningkatkan permintaan atas barang-barang industri, yang akan diikuti oleh perkembangan investasi dan perluasan tenaga kerja. Di lain pihak , kontribusi sektor pertanian terhadap pendapatan nasional akan semakin menurun.

3.       Urbanisasi
Urbanisasi dapat diartikan sebagai meningkatnya proporsi penduduk yang bermukim di wilayah perkotaan dibandingkan dengan di pedesaan. Urbanisasi dikatakan tidak terjadi apabila pertumbuhan penduduk di wilayah urban sama dengan nol. Sesuai dengan pengalaman industrialisasi di negara-negara eropa Barat dan Amerika Utara, proporsi penduduk di wilayah urban berbanding lurus dengn proporsi industrialisasi. Ini berarti bahwa kecepatan urbanisasi akan semakin tinggi sesuai dengan cepatnya proses industrialisasi. Di Negara-negara industri, sebagain besar penduduk tinggal di wilayah perkotaan, sedangkan di Negara-negara yang sedang berkembang proporsi terbesar tinggal di wilayah pedesaan. Berdasarkan fenomena ini, urbanisasi digunakan sebagai salah satu indicator pembangunan.
4.       Angka Tabungan
Perkembangan sector manufaktur/industri selama tahap industrialisasi memerlukan investasi dan modal. Finansial capital merupakan factor utama dalam proses industrialisasi dalam sebuah masyarakat, sebagaimana terjadi di Inggeris pada umumnya Eropa pada awal pertumbuhan kapitalisme yang disusul oleh revolusi industri. Dalam masyarakat yang memiliki produktivitas tinggi, modal usaha ini dapat dihimpun melalui tabungan, baik swasta maupun pemerintah.
5.       Indeks Kualitas Hidup
IKH atau Physical Qualty of life Index (PQLI) digunakan untuk mengukur kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Indeks ini dibuat indicator makroekonomi tidak dapat memberikan gambaran tentang kesejahteraan masyarakat dalam mengukur keberhasilan ekonomi. Misalnya, pendapatan nasional sebuah bangsa dapat tumbuh terus, tetapi tanpa diikuti oleh peningkatan kesejahteraan sosial.

Indeks ini dihitung berdasarkan kepada :
1)      Angka rata-rata harapan hidup pada umur satu tahun
2)      Angka kematian bayi
3)      Angka melek huruf.

Dalam indeks ini, angka rata-rata harapan hidup dan kematian bayi akan dapat menggambarkan status gizi anak dan ibu, derajat kesehatan, dan lingkungan keluarga yang langsung beasosiasi dengan kesejahteraan keluarga. Pendidikan yang diukur dengan angka melek huruf, dapat menggambarkan jumlah orang yang memperoleh akses pendidikan sebagai hasil pembangunan. Variabel ini menggambarkan kesejahteraan masyarakat, karena tingginya status ekonomi keluarga akan mempengaruhi status pendidikan para anggotanya.
2.2 Indikator Keberhasilan Pembangunan di Bidang Kesehatan
Peranan keberhasilan pembangunan kesehatan sangat menentukan tercapainya tujuan pembangunan nasional, karena dalam rangka menghadapi makin ketatnya persaingan pada era globalisasi,pendidik yang sehat akan menunjang keberhasilan program pendidikan dan juga akan mendorong peningkatan produktivitas dan pendapatan penduduk. Visi Indonesia sehat 2010 yang telah ditetapkan sebagai gambaran prediksi atau harapan tentang keadaan masyarakat pada tahun 2010, haruslah dapat mewujudkan dan dilaksanakan secara bertaat azas dan berkesinambungan. Untuk itu rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 telah disusun oleh Departement Kesehatan bersama sama dengan lintas sektor, perguruan tinggi, LSM, organisasi profesi, dan 7 partai besar yang selanjutnya akan digunakan sebagai acuan program kesehatan dalam mengembangkan rencana strategis untuk mencapai indikator keberhasilan pembangunan kesehatan yang telah ditetapkan. Salah satu indikator keberhasilannya adalah perilaku hidup sehat yang didefinisikan sebagai perilaku proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. Selanjutnya ada 19 perilaku hidup sehat yang menjadi sasaran pembangunan kesehatan dan bila dicermati perilaku-perilaku tersebut melekat pada masing-masing program kesehatan prioritas seperti KIA, GIZI, immunisasi, kesling, Gaya hidup dan JKPM.Situasi ini dapat memberi peluang tapi juga hambatan bagi penanggungjawab program untuk dapat mencapai target perubahan perilaku bila dilakukan sendiri-sendiri atau dibebankan pada satu program sektor saja. Karena masalah-masalah kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor seperti sosial budaya, ekonomi, pendidikan dan lain-lain. Ditambah lagi pada era disentralisasi dimana setiap daerah mempunyai permasalahan kesehatan lokal spesifik yang juga mempunyai aspek perilaku yang perlu ditangani secara lokal. Untuk itu perlu disusun skala prioritas bagi 19 indikator perilaku hidup sehat agar dapat ditangani secara nasional atau lokal/daerah dengan tetap menacu kepada paradigma sehat yang memandang pembangunan kesehatan lebih menekankan kepada upaya promotif dan preventif tanpa mengesampingkan kuratif dan rehabilitasi. Akses merupakan hal yang sangat terkait dengan isu gender. Derajat kesehatan perempuan secara umum dapat diukur melalui ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan, seperti tenaga kesehatan terutama bidan, selain itu dipengaruhi juga oleh rata-rata angka harapan hidup, jumlah akseptor KB, serta angka kematian bayi yang secara langsung terkait dengan tingkat kesehatan ibu.
            Pada dasarnya pembangunan dibidang kesehatan bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara mudah, merata dan murah. Dengan meningkatnya pelayanan kesehatan, pemerintah berupaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Salah satu upaya Pemerintah dalam rangka pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat adalah dengan penyediaan fasilitas kesehatan terutama Puskesmas dan Puskesmas Pembantu karena kedua fasilitas tersebut dapat menjangkau segala lapisan masyarakat hingga kedaerah terpencil. Upaya pemerintah mengutamakan pembangunan dibidang kesehatan mempunyai beberapa kepentingan antara lain meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara luas yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan lebih dini lagi adalah untuk menurunkan angka kematian bayi/balita. Upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang baik selain dengan penyediaan berbagai fasilitas kesehatan, juga melalui penyuluhan kesehatan agar masyarakat dapat berperilaku hidup sehat. Adapun upaya untuk menilai keberhasilan pembangunan dibidang kesehatan salah satunya adalah dengan berdasarkan situasi derajat kesehatan.   Oleh karena itu derajat kesehatan merupakan keharusan guna menilai hasil pelaksanaan program kesehatan yang dijalankan. Guna menilai keberhasilan pembangunan kesehatan maupun sebagai dasar dalam menyusun rencana untuk masa yang akan datang mutlak diperlukan analisa situasi derajat kesehatan tersebut.
             Dalam analisa sejauh mungkin diungkapkan tentang faktor-faktor seperti lingkungan, perilaku dan upaya pelayanan kesehatan yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat dan penyebaran menurut waktu, tempat kejadian sehingga dapat dibuat pula kecenderungan untuk masa yang akan datang.
             Upaya peningkatan kesehatan ibu perlu mendapat perhatian khusus. Survey Daerah Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1997, dari tahun 2003 menunjukkan bahwa terdapat penurunan AKI dari 334 per 100 ribu kehamilan menjadi 307 per 100 ribu. Meskipun telah terjadi penurunan AKI dan Kematian Bayi dan Anak namun AKI dan Kematian BBL masih tinggi. Cakupan Angka Kematian Ibu pada tahun 2010 adalah:
1. Menurunkan AKI menjadi 125 per 100.000 kehamilan.
2. Menurunkan angka kematian neonatal menjadi 15 per 1000 kehamilan.
Untuk mencapai target yang telah di tetapkan tersebut digunakan pendekatan baru yaitu Making Pregnancy Safer (MPS) dengan 3 fokus kegiatan (pesan kunci) :
1. Setiap persalinan di tolong oleh tenaga kesehatan terlatih.
2. Setiap komplikasi obstetri dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat.
3. Setiap Wanita Usia Subur (WUS) mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran.
Komplikasi dalam kehamilan dan persalinan tidak selalu dapat diduga atau diramalkan sebelumnya sehingga ibu hamil harus sedekat mungkin pada sarana pelayanan obstetri emergency dasar. Penyebab utama kematian Ibu adalah perdarahan, infeksi, eklampsi, partus lama dan komplikasi abortus. Perdarahan merupakan sebab kematian utama. Dengan demikian sangat pentingnya pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan karena sebagian besar komplikasi terjadi pada saat sekitar persalinan, sedang sebab utama kematian bayi baru lahir adalah asfiksia, infeksi dan hipotermi, berat badan lahir rendah (BBLR)
.

2.3 Indikator Keberhasilan Pembangunan di Bidang Pendidikan
Pembangunan bidang pendidikan memiliki dua indikator utama yakni indikator perkembangan pembangunan pendidikan dan indikator keberhasilan pembangunan pendidikan. Indikator perkembangan pembangunan pendidikan dapat ditunjukkan melalui : akses penduduk usia sekolah terhadap lembaga pendidikan, kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anak, tingkat pengeluaran pemerintah untuk anggaran pendidikan serta rasio sarana belajar pendidikan (Rasio Siswa-kelas, Rasio siswa-Guru dan Rasio Guru-kelas). Indikator keberhasilan pembangunan bidang pendidikan dapat dilihat dari : Angka Partisipasi Murni, Angka Partisipasi Kasar, Proporsi penduduk Usia 10 tahun ke atas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan, Tingkat Kelulusan Siswa dan Angka Buta Huruf.
a. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

             Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak usia 2 tahun sampai enam tahun dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. PAUD dibedakan dalam tiga bentuk yaitu formal, non formal dan informal. PAUD formal berbentuk taman kanak-kanak atau bentuk lain. Pada jalur non formal, PAUD berbentuk kelompok bermain, taman penitipan anak, atau bentuk lain, dan jalur informal seperti yang dislenggarakan di tempat-tempat ibadah atau perorangan.
Indikator keberhasilan penyelenggaraan PAUD yang diukur melalui indikator Angka Partisipasi Kasar
.
b. Pendidikan Dasar Sembilan Tahun

           Pendidikan dasar sembilan tahun adalah jenjang pendidikan bagi anak usia 7–15 tahun, yang mencakup program pendidikan dasar (SD/MI/Pendidikan sederajat) bagi penduduk usia 7 – 12 dan program pendidikan menengah pertama (SMP/MTs/Pendidikan sederajat) bagi penduduk usia 13 – 15 tahun. Indikator keberhasilan pembangunan bidang pendidikan sembilan tahun, dilihat dari Angka Partisipasi Murni dan Angka Partisipasi Kasar.

c. Pendidikan Menengah

            Indikator keberhasilan pembangunan pendidikan pada pendidikan sekolah menengah dilihat dari aspek angka partisipasi murni (APM) dan angka partisipasi kasar (APK), memperlihatkan adanya peningkatan.
d. Pendidikan Tinggi

              Persentase penduduk yang menamatkan pendidikan tinggi dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, kecuali Diploma I dan II.

2.4 Indikator Keberhasilan di Bidang Sosial dan Budaya
Pembangunan sosial dapat didefinisikan sebagai strategi kolektif dan terencana guna meningkatkan kualitas hidup manusia melalui seperangkat kebijakan sosial yang mencakup sektor pendidikan, kesehatan, perumahan, ketenagakerjaan, jaminan sosial dan penanggulangan kemiskinan. Istilah pembangunan sosial (social development) sering dipertukarkan dengan pembangunan manusia (human development) dan pembangunan kesejahteraan sosial (social welfare development). Secara konseptual, ketiganya sesungguhnya memiliki arena dan konsentrasi yang relatif berbeda, meskipun bersinggungan. Bila pembangunan sosial lebih berorientasi pada peningkatan kualitas hidup manusia dalam arti luas, maka pembangunan manusia memfokuskan perhatiannya pada peningkatan modal manusia (human capital) yang diukur melalui dua indikator utama; pendidikan (misalnya angka melek huruf) dan kesehatan (misalnya angka harapan hidup). Sementara itu, pembangunan kesejahteraan sosial lebih berorientasi pada peningkatan modal sosial (social capital) yang dapat dilihat dari indikator keberfungsian sosial (social functioning) yang mencakup kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, melaksanakan peran sosial serta menghadapi goncangan dan tekanan kehidupan. Meskipun sasaran pelayanan pembangunan kesejahteraan sosial mencakup individu dan masyarakat dari berbagai kelas sosial ekonomi, namun sasaran utama pelayanan pembangunan sosial pada umumnya adalah mereka yang tergolong kelompok-kelompok kurang beruntung (disadvantaged groups) yang di Indonesia dikenal dengan nama Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS).
Krisis multi dimensi yang dihadapi bangsa Indonesia sejak tahun 1998 tidak hanya menyangkut aspek ekonomi dan politik, tetapi juga merambat kepada aspek pembangunan sosial, khususnya pembangunan Kesejahteraan Sosial. Ternyata, kondisi sosial ekonomi dan politik bangsa Indonesia sangat rapuh dan rentan terhadap terpaan arus globalisasi. Hal itu menuntut semua komponen bangsa untuk mengkaji ulang paradigma pembangunan dan tidak terkecuali paradigma pembangunan Kesejahteraan Sosial. Romanyshyn (1971) menyatakan istilah “Kesejahteraan Sosial” seringkali diekspresikan secara kabur dan konsepnya selalu berubah-ubah, yang memiliki konotasi negatif dan positif. Dalam arti sempit, kesejahteraan sosial diartikan sebagai bantuan finansial dan pelayanan lain bagi golongan masyarakat yang kurang beruntung.
Banyak arti yang diberikan pada istilah kesejahteraan sosial (Suharto, 2005). Kesejahteraan sosial seringkali menyentuh, berkaitan, atau bahkan, selintas, bertumpang-tindih (overlapping) dengan bidang lain yang umumnya dikategorikan sebagai bidang sosial, misalnya kesehatan, pendidikan, perumahan, dll. Spicker (1995:5) membantu mempertegas substansi kesejahteraan sosial dengan menyatakan bahwa welfare (kesejahteraan) dapat diartikan sebagai “well-being” atau “kondisi sejahtera”. Namun, welfare juga berarti ‘The provision of social services provided by the state’ dan sebagai ‘Certain types of benefits, especially means-tested social security, aimed at poor people’.Kesejahteraan menunjuk pada pemberian pelayanan sosial yang dilakukan oleh Negara atau jenis-jenistunjangan tertentu, khususnya jaminan sosial yang ditujukan bagi orang miskin. Menurut Howard Jones(1990), tujuan utama kesejahteraan sosial, yang pertama dan utama, adalah penanggulangan kemiskinan dalam berbagai manifestasinya. “The achievement of social welfare means, first and foremost, the alleviation of poverty in its many manifestations” (Jones, 1990:281). Makna “kemiskinan dalam berbagai manifestasinya” menekankan bahwa masalah kemiskinan disini tidak hanya menunjuk pada “kemiskinan fisik”, seperti rendahnya pendapatan (income poverty) atau rumah tidak layak huni, melainkan pula mencakup berbagai bentuk masalah sosial lain yang terkait dengannya, seperti anak jalanan, pekerja anak, perdagangan manusia, pelacuran, pengemis, pekerja migran, termasuk didalamnya menyangkut masalah kebodohan, keterbelakangan, serta kapasitas dan efektifitas lembaga-lembaga pelayanan sosial pemerintah dan swasta (LSM, Orsos, institusi lokal) yang terlibat dalam penanggulangan kemiskinan.
2.5 Indikator Keberhasilan Pembangunan di Bidang Politik
 Mengapa ada perbedaan hasil dalam Indeks Pembangunan Manusia (human development Indeks) antara yang dirumuskan oleh Pemerintah Indonesia dengan Perserikatan Bangsa-bangsa, padahal dimensi, indicator dan obyek yang digunakan sama?.  Jawaban atas pertanyaan ini yang paling sederhana dan dimaklumi oleh banyak kalangan adalah karena ukuran yang digunakan oleh pemerintah selama ini hanya ukuran politik (politic pattern). Ukuran politik yang dimaksud di sini terkait dengan indikator yang digunakan semata untuk melindungi wibawa politik pemerintah di mata publik sehingga kebutuhan dasar dalam pembangunan manusia yang paling esensial terabaikan. Pemerintah "terkesan" jaga wibawa kepada para konstituens politiknya bahwa mereka telah melaksanakan amanah pembangunan. Ukuran politik pula yang mengakibatkan masing-masing indicator dalam pembangunan manusia saling tidak singkron satu sama lain.
           Seperti misalnya dalam penetapan standar hidup layak, pemerintah menetap kan garis kemiskinan berdasarkan pengeluaran seseorang dalam memenuhi kebutuhan minimum yakni berdasar asupan kalori (2.100 kalori) untuk bertahan hidup atau senilai uang Rp. 5.500/kapita/hari (Suharto, 1999).
            Jika pemerintah (baca : Badan Pusat Statistik) menggunakan acuan minimum pendapatan masyarakat sebesar Rp. 5.500/hari berada di ambang batas kemiskinan, maka kesimpulan sederhana memanglah benar kemiskinan di Indonesia mengalami penurunan seperti selama ini dikampanyekan dalam setiap moment politik. Data BPS 2010 menyebutkan jumlah kemiskinan tinggal 31,02 juta.
             Angka ini menurun sebanyak 4 juta orang miskin pada tahun 2005 (sebanyak 35,1 juta jiwa). Padahal kebutuhan dasar penduduk bukanlah asupan kalori semata. Masing-masing penduduk di jamin oleh undang-undang untuk hidup layak (sandang, pangan dan papan). Penetapan angka Rp.5.500/hari sebagai batas penduduk hidup di garis kemiskinan dalam pandangan penulis sangatlah tidak manusiawi.
              Jika indicator ini digunakan maka sangatlah jelas pemerintah mengesampingkan kebutuhan lain di luar asupan kalori seperti kepemilikan rumah, kepemilikan sandang (pakaian), kebutuhan pendidikan dan standar hidup layak lainnya.
               Dengan standar hidup layak minimum di atas maka tidak heran jika dalam laporan Indeks Pembangunan Manusia yang dirilis oleh BPS tahun 2008 sangat timpang antara indicator melek huruf (sebesar 91,9%) dengan lama usia sekolah yang selama satu dasawarsa hanya bisa meningkat 1,2 tahun (IPM-BPS, 2008).
                Dalam bidang kesehatan, Indonesia mengalami hambatan yang sangat serius jika masalah ledakan penduduk (hasil sensus 2010) tidak diatasi maka akan berdampak pada kinerja pembangunan manusia bidang kesehatan dan bidang lainnya.
                Secara sederhana kita dapat melihat bagaimana kehidupan seorang Ibu dari keluarga miskin yang memiliki banyak anak memiliki dampak berbanding lurus dengan rendahnya kemampuan Ibu dalam memenuhi kebutuhan gisi dan nutrisi.
                Oleh karenanya kita tak bisa berbangga serta memamerkan kepada dunia internasional bahwa angka harapan hidup di Indonesia terus meningkat sedangkan factor lain kita kesampingkan seperti misalnya kualitas hidup yang rendah karena tak mampu mengenyam pendidikan tinggi dan hidup dibawah garis kemiskinan.
               Terakhir, titik terlemah pembangunan manusia Indonesia dalam pandangan penulis berada di sector pendidikan. Data BPS tahun 2010 menyebutkan lama usia sekolah hanya sekitar 5,7 tahun (setingkat Sekolah Dasar).
                Lalu jika usia sekolah hanya 5,7 tahun, bagaimana dengan kualitas pendidikan sedangkan sampai hari ini kita masih menghadapi permasalahan serius soal out put pendidikan yang belum mampu mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran di Indonesia.
              Atas dasar refleksi pembangunan manusia, penulis mengapresiasi niatan Pimpinan Pusat Muslimat NU untuk menyusun Muslimat Development Indeks (MDI) yang sejak awal menjauhkan "ukuran politik" sebagai indikatornya.
2.6 Indikator Keberhasilan Pembangunan di Bidang Hukum
Untuk mendukung terwujudnya Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan, maka perlu dilakukan pembenahan hukum dan aparatur di Indonesia. Hal ini dilakukan dengan menetapkan kebijakan pembangunan di bidang hukum dan aparatur yang diarahka n pada perbaikan tata kelola pemerintahan yang baik. Kebijakan ini sudah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2011-2014, dalam bidang hukum dan aparatur.
Jika dikaitkan dengan tujuan utama yang ingin kita capai, yaitu sejahtera, adil, dan demokrasi, maka dalam prosesnya tentu salah satu yang sangat krusial dari indikator objektif adalah terkait masalah hukum dan aparatur. Bukan hanya terkait subtansinya, tapi juga dari yang melaksanakannya,” jelas Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Prof. Armida S. Alisjahbana, SE., MA., PhD saat menyampaikan materi kuliahnya yang berjudul “Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 Bidang Hukum dan Aparatur” dihadapan mahasiswa Pascasarjana Fakultas Hukum (FH) Unpad.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Armida yang juga guru besar di Unpad ini menyebutkan tujuh strategi dan arah kebijakan pembangunan mengenai hukum dan aparatur, untuk mencapai Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan adil. Ketujuh strategi ini adalah peningkatan efektivitas perundang-undangan, peningkatan kinerja lembaga di bidang hukum; peningkatan penghormatan, pemajuan, dan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM), peningkatan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), peningkatan kualitas pelayanan publik, peningkatan kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi, dan pemantapan pelaksanaan reformasi birokrasi.
“Ketujuh strategi inilah yang selalu kita pantau bagaimana kondisi pencapaian terakhir, apa yang menjadi masalah yang perlu diperbaiki, dan bagaimana pelaksanaan dari strategi dan arah kebijakan pertahunnya,” ungkap Prof. Armida. Ia pun menyebutkan bahwa tujuh strategi ini diharapkan akan membawa pengaruh besar terhadap keadilan dan kepastian hukum, serta pelayanan publik yang berkualitas.
Prof. Armida juga menjelaskan outcome dan output dari setiap strategi tersebut. Dalam strategi peningkatan kinerja lembaga di bidang hukum misalnya, Prof. Armida menggarisbawahi mengenai peningkatan pengawasan eksternal dan internal dari upaya penegakan hukum. “Ini menjadi sorotan sekarang ini, dimana pemerintah sudah berada pada tahap akhir dalam menyusun peraturan Presiden mengenai fungsi Komisi Kepolisian Nasional dan Komisi Kejaksaan, untuk diberikan kekuatan dalam pengawasan sebagai upaya penegakan hukum,” jelasnya.
Kemudian dalam upaya peningkatan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN, langkah-langkah yang dilakukan adalah dengan menegakkan hukum yang kuat dan dipercaya, mencegah KKN melalui penegakan sistem integritas aparatur negara, dan meningkatan partisipasi masyarakat dalam pengawasan.
Selain itu, Prof. Armida juga mengharapkan terciptanya sistem pendidikan yang baik, bukan hanya pada sisi subtansinya tapi juga pada sisi nonsubtansi, seperti pembentukan etika, moral, dan karakter. Hal ini penting mengingat masalah di negara ini sering dikaitkan dengan moral sumber daya manusia yang kurang baik. Pendidikan moral ini perlu diterapkan sedini mungkin, sehingga nantinya dapat menghasilkan manusia yang akan berkontribusi positif bagi kemajuan bangsa ini.








KESIMPULAN
Pembangunan (development) adalah proses perubahan yang mencakup seluruh system sosial, seperti politik, ekonomi, infrastruktur, pertahanan, pendidikan dan teknologi, kelembagaan, dan budaya (Alexander 1994).Portes (1976) mendefenisiskan pembangunan sebagai transformasi ekonomi, sosial dan budaya Pembangunan adalah proses perubahan yang direncanakan untuk memperbaiki berbagai aspek kehidupan masyarakat. Sedangkan Ginanjar Kartasas­mita (1994) memberikan pengertian yang lebih sederhana, yaitu sebagai “suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana”.
Proses pembangunan terjadi di semua aspek kehidupan masyarakat, ekonomi, sosial, budaya, politik, yang berlangsung pada level makro (nasional) dan mikro (commuinity/group). Makna penting dari pembangunan adalah adanya kemajuan/perbaikan (progress), pertumbuhan dan diversifikasi.















DAFTAR PUSTAKA
Kuncoro, Mudrajad, Ekonomi Pembangunan : Teori, Masalah, dan Kebijakan, Yogyakarta, 1997.
Tambunan, Tulus T.H., Perekonomian Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1996.
Tjokroamidjojo, Bintoro; Mustopadidjaja, Pengantar Pemikiran tentang Teori dan Strategi Pembangunan nasional, Jakarta, 1984.
Diposkan oleh AL-HIJRAH
Diposkan oleh Susianah Affandy
detikcom
Sindonews.com
Okezone.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar